"Seharusnya tidak seperti ini..." Bulan melemah pelan.
"Huss.. kau tidak seharusnya berbicara seperti itu!" sergah Bintang cepat.
"Iya, aku tahu.. tapi aku sedih..." dalih tertutur perlahan oleh Bulan.
"Nanti akan terlihat apa maksud dari semua hal di dunia. percayalah.." semangat sebuah Bintang.
"Tanpa kehangatannya?" Bulan sangsi.
"Akhir kehangatannya adalah akhir dari dunia. Selama dunia ini masih ada, maka kehangatan itu akan tetap ada. Ayo Bulan, malam telah datang.. dan tugas kita menanti.." Bintang meraih tangan Bulan dan melayang menuju pekatnya gelap seraya menebarkan cerahnya sinar.
**********************************************************************************************************************
"Matahari namaku" singkat ia berkata.
"Aku Awan siang. senang berkenalan denganmu.." Awan tersenyum mendekati matahari.
"Ya, aku juga." murung terlihat di antara bias sinarnya.
"Ada apa? kau terlihat sedih? kau baik-baik saja?" Awan khawatir.
"Dia sunggu sangat sulit dijangkau.. sulit diraih.. tetapi, dia ada. dan aku mengasihinya." desah.
"Engkau membicarakan siapa? dia siapa maksudmu?" Awan bingung.
"Waktu memisahkan kami. dan hanya waktu yang dapat menjawab pertanyaanmu." menjauh.
"Itu tidak mungkin. kau tahu bahwa itu tidak mungkin. sudahlah, aku tahu kau sedih. tetapi, dia ada. dan kau juga ada. itulah yang terbaik. syukur atas itu. mari, semuanya sudah menantimu.. mereka mengasihimu.. aku juga." Awan melewati Matahari, menggodanya untuk beranjak dari tempat itu menuju tempat lain. menyambut dunia yang terbentang luas.
1 comment:
Post a Comment